Minggu, 21 September 2008

Untuk Jeda yang Tersisa #3

Sejak gerimis di sore itu Ratu tak pernah mendekatiku lagi. Sesekali kulihat wajahnya terpampang di majalah, papan reklame, bahkan di infotainment. Aku tak pernah lagi bertemu dengannya di kampus.
Apalagi sejak aku lulus dengan predikat cum laude. Kemudian tawaran pekerjaan berdatangan dari berbagai media. Aku memilih mengabdikan diri di sebuah penerbitan surat kabar, di mana aku magang di sana sebelumnya.
Di tempat kerja itu aku mendapat jawaban mengenai kasus papaku. Ternyata peliknya kehidupan jurnalistik memang mengharuskan adanya korban dalam peristiwa itu. Papaku menjadi pihak yang terkorbankan. Demi nama baik dan penokohan.
Sejak pembelajaran berharga itu. Aku semakin keras dan garang. Aku tak pandang bulu. Suaraku semakin keras dalam menyuarakan keadilan. Tak peduli dari golongan mana, ataupun tokoh apa. Dan itu yang kerapkali membuat saya berseberangan dengan mereka, pemilik saham tempat saya bekerja.
“Untung kamu cantik, jadi selalu dapat ampunan”, beberapa teman mengingatkan saya. Memangnya kalau tidak cantik kenapa? Tanya saya suatu ketika.
“Uh, udah dipecat dari dulu-dulu”, begitu kata mereka.
Mereka menganggap saya keterlaluan dalam memberikan pemberitaan. Tentang sebuah nama besar yang menyelewengkan keuangan Negara. Bertubi-tubi saya keluarkan fakta. Saya relakan berminggu-minggu waktu tidur saya untuk mengejar fakta. Oplah naik terus. Tapi apa? Saya malah dianggap keterlaluan. Dicecar dari berbagai sudut. Pemilik saham merasa nama tersebut telah banyak memberikan masukan pada tempat saya bekerja. Bah! Tak perlu lama menunggu, saya dimutasikan ke bagian administrasi
I’ts Okay. Saya hanya menunggu waktu saja untuk keluar dari tempat kerja saya yang sekarang. Hm… sudah hampir pukul 2 pagi. Tapi belum juga kantuk itu datang menghampiriku. Kulirik jam di dinding. Sepi. Sendiri. Sebaiknya aku mencoba untuk memejamkan mata hingga saya terbuai jauh ke dalam mimpi panjang.
*^ ^*

Selasa, 22 April 2008

Untuk Jeda yang Tersisa #2

“Ada liputan apa hari ini?”, tanya Ratu.
“Hm… Bukan liputan. Hanya menyelesaikan laporan keuangan kantor. Aku berhenti jadi wartawan.”, jawab Chanaya pelan.
“Hah, berhenti?!”, kekagetan Ratu sempat membuatnya mengerem mobilnya secara mendadak.
Ratu merasa tidak habis pikir. Ia mengenal Chanaya dengan baik. Mereka pernah berada di kampus yang sama. Keinginan Chanaya untuk menjadi wartawan sangat besar. Semangatnya juga menyala, terlebih ketika ayahnya menjadi korban kebrutalan pemberitaan. Karena gencarnya pemberitaan mengenai penyalahgunaan wewenang di kantornya, wartawan mampu membuat ayahnya masuk ke penjara. Kemudian meninggal sebelum ia menyelesaikan masa hukumannya, karena jantung yang dideritanya. Padahal ayahnya hanyalah korban dari kambing hitam dari atasannya saja. Kejadian itu juga membuat mamanya terpukul. Sepeninggal papa, mamanya kembali ke Austria. Dan Chanaya tinggal bersama kakek dan neneknya.
Semenjak itu, keinginan untuk menjadi wartawan berkobar di dada Chanaya. Ia ingin memulihkan nama baik papanya dengan mengabdikan diri menjadi wartawan yang menyelidiki secara tuntas, ada apa di balik kasus yang terjadi. Makanya atu merasa heran dengan jawaban Chanaya.
“Aku sudah terlalu sering mendapat teguran. Aku diminta memilih keluar atau dikeluarkan.” Chanaya menjawab dengan acuh.
“Aku memilih keluar. Sebab kehidupan adalah petualangan Ratu, tanpa petualangan kita tidak akan menemukan mutiara indah yang terdapat di dalamnya”, sambung Chanaya.
Ratu terdiam. Ia mulai menjalankan mobilnya. Benaknya diliputi berbagai pertanyaan dan kegelisahan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Meski malam telah larut. Namun kota tidak ikut terbuai di dalamnya. Masih banyak mobil dan kendaraan berlalu lalang.
“Kamu mau mampir ke suatu tempat dulu, Shay?”, tanya Ratu.
Shanay terhenyak, ia sudah mulai mengantuk dalam buaian angin yang semilir.
“Tidak. Aku ingin segera tidur”, Chanaya menjawab pendek.
Setelah itu tidak terjadi pembicaraan lagi. Keduanya terdiam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Tak lama Mercedes hitam Ratu sudah sampai di pelataran sebuah apartemen Chanaya.
“Nah, sudah sampai”, gumam Ratu.
“Terima kasih Ratu. Kamu baik sekali. Mau mampir?”, tanya Chanaya manis.
“Terima kasih. It’s too late. Maybe next time. Bye”, jawab Ratu sambil melambai.
Chanaya menunggu sesaat. Dilambaikannya tangannya saat Mercedes hitam milik Ratu berlalu dari hadapannya. Kemudian ia melangkah tenang menuju kamarnya di lantai dua.

Aku mengenalnya ketika masih di tingkat pertama. Masa Orientasi sekolah. Dengan muka yang culun ia bertanya padaku, “Eh, kita mau diapakan sih?”. Aku hanya mengangkat bahu dan menahan tawa. Itu saja, cukup untuk membuat kami saling mengenal selama beberapa waktu kemudian.
Namun tak lama. Sejak ia tahu tentang papa dan kasusnya. Ia tak pernah menjadi bagian dari keseharianku lagi. Aku terlalu sibuk dengan kehidupan jurnalistik di kampus. Sampai kemudian Ratu hadir dan menawariku untuk mengikuti audisi model yang diselenggarakan oleh sebuah rumah mode dan tabloid terkenal.
Ia datang bersama beberapa teman modelnya.
“Ayolah, Shay. Kamu sudah punya ‘something’ untuk dijual”, Ratu mencoba merayuku.
“Tambahan lagi wajah cantik kamu, bentuk tubuhmu”, masih kuingat ia memutariku kala itu.
“Jadi kasus papaku ya? Yang akan membuatku menang dalam kompetisi itu?”, tanyaku sinis sambil mencibir padanya.
“Maaf, aku tahu aku bisa dapat uang banyak dari sana. Tapi saya tidak akan menjual tubuhku hanya untuk menjadi kaya dan terkenal. Apalagi karena kasus papaku!”, ku tinggalkan mereka dalam gerimis yang hadir.
“Shay, tunggu sebentar”, Ratu berlari menyusul dan menarik tanganku. Di sebuah jembatan, batas koridor kampus.
Aku terpaksa berhenti.
“Apa maksudmu dengan menjual tubuh?!?”, ada amarah dalam tanyanya.
“Bagiku membiarkan diri kita ditonton banyak orang adalah menjual diri. Maaf kalau kita berseberangan. Jalan kita memang berbeda dari awal”, kutinggalkan Ratu sendiri di penghujung sore yang gerimis.

Jumat, 18 April 2008

Untuk Jeda yang Tersisa

Mendung masih menggayut di langit. Hembusan angin malam mendesir pelan. Langkah kakinya melaju pelan. Sedikit sesak di dadanya. Ada yang belum terselesaikan. Tapi tak satu alasan ditemukan untuk menuntaskannya.
Persimpangan jalan. Dihentikannya sejenak langkah kakinya. Menengok ke kiri dan ke kanan. Setelah yakin tidak satu pun kendaraan melaju. Dibawanya kakinya menuju ke seberang.
Chanaya Kumaratih, nama yang melekat di akta kelahirannya, yang 30 tahun lalu diberikan oleh ayah dan ibunya. Seorang perempuan yang tinggi semampai dengan berat badan yang berimbang. Tidak terlalu gemuk, juga tidak kurus, dengan paras yang lumayan cantik. Ia termasuk beruntung karena memiliki darah campuran Austria dari mamanya, Jawa dan Sulawesi dari papanya.
Diliriknya jam tangannya. Ia mendesah sekali lagi. Sudah jam 23.20. Angin malam semakin mengigit. Tiba-tiba sebuah mercedes hitam berhenti tepat di sampingnya. Jendela kacanya terbuka pelan.
"Shanay kan?", sebuah senyum manis tersungging di bibir perempuan seusia dengannya.
"Ratu", Shanay tersenyum manis.
"Baru pulang? bareng aja yuk!" Kebetulan aku juga baru selesai pemotretan", perempuan bernama ratu itu membukakan pintu mobilnya.
"Capek ya? Kenapa jalan kaki?", tanya Ratu lagi.
Chanaya membetulkan letak duduknya. Hm, nyaman sekali rasanya. Kemudian ditolehnya Ratu.
"Iya, capek sekali hari ini. Mobilku sedang ada masalah. Supirku sedang cuti juga, istrinya melahirkan", Chanaya diam menatap lurus ke depan.
*bersambung kaleeeeeeeee.......*